Wirid Rahasia Sholawat Adrikin dan Cara Mengamalkannya
Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah SAW, sholawat juga menjadi sebab turunnya rahmat, keberkahan, serta diangkatnya doa seorang hamba kepada Allah SWT. Banyak ulama menjelaskan keutamaan sholawat berdasarkan Al-Qur'an, hadis, maupun pengalaman para ulama saleh dalam mengamalkannya.
Di dalam kitab Khozinatul Asror karya Syaikh Muhammad Haqqi An-Nazili, disebutkan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa sholawat memiliki kedudukan yang sangat agung. Dalam kitab tersebut diterangkan bahwa doa yang dipanjatkan tanpa diawali dan diakhiri dengan sholawat berpotensi tidak memperoleh kesempurnaan adab dalam berdoa. Oleh karena itu, banyak ulama menganjurkan agar setiap doa selalu dibuka dan ditutup dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Terdapat pula riwayat yang menyebutkan bahwa doa seorang hamba memiliki banyak penghalang sebelum sampai kepada Allah SWT. Riwayat tersebut menyebut angka 360.000 hijab atau penghalang. Angka tersebut dipahami oleh sebagian ulama sebagai bentuk penjelasan mengenai begitu pentingnya memperhatikan adab dalam berdoa, bukan untuk dijadikan keyakinan yang pasti. Salah satu adab yang sangat dianjurkan ialah memperbanyak membaca sholawat kepada Rasulullah SAW.
Di kalangan para ulama dan orang-orang saleh, dikenal sebuah bacaan yang disebut Sholawat Adrikni. Amalan ini dinukil dari beberapa guru tarekat dan dinisbatkan kepada para ulama terdahulu sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual ketika menghadapi kesulitan hidup. Namun demikian, seorang muslim tetap harus meyakini bahwa yang mengabulkan segala doa hanyalah Allah SWT, sedangkan sholawat merupakan wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan anjuran memperbanyak sholawat ketika menghadapi kesulitan adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah. Beliau dikenal sebagai ulama besar yang selalu mengajarkan umat Islam agar memperkuat ibadah, memperbanyak istighfar, bersedekah, bertawakal, serta memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW dalam setiap keadaan.
Dalam amalan yang banyak diamalkan masyarakat, Sholawat Adrikni dibaca sebanyak 300 kali apabila seseorang memiliki hajat yang sangat penting. Sedangkan apabila seseorang sedang berada dalam keadaan yang benar-benar mendesak, sebagian ulama dan guru spiritual menganjurkan membacanya sebanyak 1.000 kali. Bilangan tersebut merupakan bentuk latihan istiqamah dan bukan ketentuan yang diwajibkan dalam syariat.
Perbedaan kedua jumlah bacaan tersebut terletak pada kondisi orang yang mengamalkannya. Bacaan 300 kali biasanya diamalkan ketika seseorang memiliki kebutuhan penting namun masih memiliki waktu. Adapun bacaan 1.000 kali sering diamalkan ketika seseorang berada dalam keadaan yang sangat mendesak, seperti memiliki kewajiban yang harus segera ditunaikan atau menghadapi persoalan yang membutuhkan pertolongan Allah SWT secepatnya.
Sebelum membaca sholawat, sebagian guru menganjurkan menghadiahkan Al-Fatihah atau bertawasul kepada Rasulullah SAW, para ulama, dan guru yang memberikan ijazah amalan tersebut. Tawasul dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang saleh, dengan tetap meyakini bahwa segala manfaat dan pertolongan hanya berasal dari Allah SWT.
Adapun lafaz Sholawat Adrikni yang banyak diamalkan adalah:
"As-salatu wassalamu 'alaika ya Rasulullah, khudz biyadi qallat hilati adrikni."
Sholawat ini biasanya diamalkan pada malam hari setelah melaksanakan sholat hajat. Waktu malam dipilih karena merupakan salah satu waktu yang penuh ketenangan sehingga seseorang dapat lebih khusyuk dalam bermunajat kepada Allah SWT. Selain membaca sholawat, hendaknya memperbanyak istighfar, memperbaiki niat, memperbanyak sedekah apabila mampu, serta menjaga sholat lima waktu agar doa semakin mudah dikabulkan.
Perlu dipahami bahwa tidak ada amalan yang secara mutlak menjamin terkabulnya semua keinginan. Allah SWT mengabulkan doa sesuai hikmah-Nya. Terkadang Allah mengabulkan secara langsung, menundanya hingga waktu yang terbaik, atau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik bagi hamba-Nya. Karena itu, jangan pernah berputus asa ketika doa belum segera terkabul.
Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, menjaga adab dalam berdoa, dan selalu menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT. Mudah-mudahan Allah melapangkan segala urusan, mengangkat kesulitan, melunasi utang bagi yang memiliki utang, memberikan rezeki yang halal dan berkah, serta mengabulkan doa-doa terbaik kita sesuai dengan kehendak-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
