Menu Super Indo Rp15 Ribuan Viral, MBG Kembali Jadi Sorotan
Beberapa hari terakhir, media sosial ramai membahas menu siap santap dari Super Indo yang dijual sekitar Rp14 ribu hingga Rp15 ribuan. Dengan tampilan rapi, lauk yang jelas, dan porsi yang dinilai masuk akal, menu ini dianggap sebagai contoh bahwa makanan murah tetap bisa terlihat layak dan menggugah selera.
Viralnya menu tersebut kemudian memicu perbandingan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Banyak netizen mempertanyakan mengapa dengan kisaran harga yang mirip, hasil akhir makanan MBG kadang terlihat kurang meyakinkan.
Padahal, Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan bahwa anggaran MBG sebesar Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per porsi tidak sepenuhnya digunakan untuk bahan makanan. Biaya bahan pangan hanya sekitar Rp8 ribu sampai Rp10 ribu, sedangkan sisanya dipakai untuk operasional seperti tenaga kerja, distribusi, kemasan, listrik, dan pengawasan.
Meski begitu, masyarakat tetap menilai dari hasil yang diterima. Anak-anak dan orang tua tidak melihat rincian anggaran, melainkan kualitas makanan di dalam kotak. Jika tampilannya kurang layak, wajar jika muncul keraguan terhadap program.
Program MBG sendiri memiliki target sangat besar. Pada 2026, jumlah penerima manfaat ditargetkan mencapai 82,9 juta orang dengan dukungan anggaran APBN sebesar Rp268 triliun. Skala ini tentu jauh berbeda dengan model bisnis supermarket yang hanya beroperasi di wilayah tertentu.
Namun, perbandingan dengan Super Indo memberikan pelajaran penting: makanan murah tetap bisa disajikan dengan rapi, bersih, dan meyakinkan. Inilah yang diharapkan publik dari MBG.
Selain soal tampilan, aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian serius. Kasus keracunan makanan dalam program MBG menunjukkan bahwa kualitas dan pengawasan harus menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, viralnya menu Super Indo bukan berarti supermarket harus menjadi pengganti MBG. Fenomena ini hanya menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan program pemerintah yang benar-benar dijalankan dengan serius.
MBG tetap merupakan program penting untuk masa depan anak-anak Indonesia. Namun agar mendapat kepercayaan publik, kualitas makanan yang diterima harus sesuai dengan nama programnya: bergizi, aman, bersih, dan layak dikonsumsi. Karena pada akhirnya, anak-anak tidak bisa kenyang oleh slogan—mereka hanya bisa tumbuh sehat dari makanan yang benar-benar berkualitas.
